Kamis, 29 Desember 2011

Loyalitas Anggota Pada Koperasinya



Anggota loyal karena merasakan manfaat dari koperasi adalah hal biasa. Tapi kalau anggota tetap loyal walaupun koperasinya sedang tersandung masalah dan pelayanan tidak maksimal, itulah yang luar biasa. Ternyata yang demikian ini ada di Kopwan Setya Kartini Wanita Sidoarjo yaitu kelompok 01. Berikut dinamika kelompok 01 dalam penerapan system tanggung renteng.
Mendung bergelayut di langit Sidoarjo sore itu, walaupun hujan belum sampai turun. Kendati demikian, kondisi cuaca tidak menyurutkan anggota kelompok 01 untuk menghadiri pertemuan kelompok. Setidaknya hingga pukul empat sore, sudah berkumpul 11 anggota di rumah Ibu Dewi.
Setiap anggota yang baru datang, langsung mengisi daftar hadir dan menyiapkan pembayaran kewajiban untuk diserahkan kepada Ibu Luluk selaku Penanggung Jawab (PJ) kelompok 01. Selanjutnya merekapun duduk melingkar diatas tikar yang digelar diberanda rumah tersebut. Seperti biasa, merekapun saling bercerita dengan teman yang duduk disebelahnya. Sesekali terdengar pula gelak tawa diantara mereka.
Namun kondisi itu berubah senyap manakala Ibu Dewi selaku tuan rumah mulai menyampaikan sambutan selamat datang. Hal ini juga sebagai tanda bahwa pertemuan akan dimulai. Acarapun terus mengalir, Ibu Dewi meminta semua yang hadir untuk berdiri. Merekapun secara bersama-sama dan penuh semangat menyanyikan lagu mars Setya Kartini Wanita. Walaupun mereka bulum hafal liriknya, sehingga masih harus nyontek.
Acarapun terus berlanjut hingga menginjak pada agenda musyawarah. Saat itu Ibu Sony menyampaikan bahwa ia belum bisa melengkapi pembayaran kewajibannya. Sehingga ia mohon pada kelompok untuk ditanggung renteng. Namun Ibu Sony juga tidak ingin kehilangan kepercayaan dari teman-teman satu kelompok, untuk Ibu Sony berjanji akan membayar talangan Tanggung Renteng tersebut pada tanggal 25 bulan berikutnya. Anggota secara kelompokpun sepakat melakukan tanggung renteng setelah mendengar alasan dan janji Ibu Sony.
Masalah Tanggung Renteng di kelompok ini nampaknya bukan menjadi hal yang menakutkan bagi anggotanya. Karena masing-masing anggota menyadari, akan bisa mengalami hal sama yaitu tidak punya kemampuan membayar kewajiban saat pertemuan kelompok. Itulah sebabnya kelompok ini sepakat membayar iuran sebesar Rp 2000 setiap bulan untuk tabungan kelompok sebagai antisipasinya.
“Disamping setiap bulan, setiap anggota membayar Rp 2000,-, kita juga telah membuat kesepakatan untuk anggota yang realisasi akan dipotong Rp 25 ribu untuk tabungan kelompok dan disetorkan ke koperasi. Dan semua itu juga telah tercatat atas nama masing-masing anggota. Hingga saat ini tabungan kelompok untuk cadangan Tanggung Renteng, kita telah mencapai Rp 1,9 juta,” tukas Ibu Luluk, PJ kelompok 01.
Apa yang dijelaskan Ibu Luluk itu dibenarkan juga oleh Ibu Bambang, Ketua Kopwan Setya Kartini Wanita yang saat itu hadir di pertemuan kelompok untuk melakukan pendampingan. Dijelaskan pula oleh Ibu Bambang, anggota kelompok ini semuanya memupunyai usaha seperti catering. Karena mereka pengusaha, sehingga kadangkala uang yang sudah disiapkan untuk membayar kewajiban, dipakai dulu karena ada pesanan mendadak. Disaat seperti itulah mereka mohon di Tanggung Renteng oleh kelompoknya. Tapi mereka juga konsekuen untuk pengembaliannya dan sesuai tanggal yang dijanjikan. Itulah sebabnya diantara anggota dikelompok ini sudah saling percaya dan mereka tidak merasa keberatan bila ada temannya yang minta di Tanggung Renteng.
Saat itu, pertemuan kolompok yang dihadiri 13 anggotanya tersebut juga melakukan musyawarah untuk 3 calon anggota baru. Dalam musyawarah penerimaan anggota baru ini nampaknya berjalan mulus tanpa ada ganjalan. Karena nampaknya diantara anggota sudah saling kenal dengan calon anggota baru tersebut. “Ibu-ibu itu satu komplek dengan kita dan satu jamaah pengajian dengan kita,” tukas Ibu Dewi yang dibenarkan anggota lainnya. Sehingga kata setujupun terlontar serentak saat itu yang kemudian dilanjutkan dengan tanda tangan pada form penerimaan anggota baru.
Namun sebelum calon anggota baru menyatakan sepakat untuk bergabung, saat itu Ibu Bambang memaparkan tentang Kopwan Setya Kartini Wanita (SKW) dan sistem tanggung renteng. Dipaparkannya bahwa Kopwan SKW telah mengalami jatuh bangun sampai beberapa kali. Beberapa anggota kelompok 01 telah menjadi saksi dari perjalanan jatuh bangun tersebut. Bahkan kelompok ini ikut berperan aktif untuk membangkitkan kembali koperasinya.
Pada tahun 1985, Kopwan SKW mengalami kesalahan menejemen sehingga tingkat kepercayaan anggota pada pengelola, menurun. Saat itu anggota hanya tersisa 40 orang termasuk didalamnya anggota kelompok 01. Sehingga pergantian pengurus saat itupun dilakukan dan kegiatan dilakukan kembali mulai dari nol. Kelompok 01 dalam hal ini cukup banyak memberikan kontribusi.
Kejatuhan berikutnya adalah ketika pasar terbesar di Sidoarjo terbakar. Padahal saat itu banyak anggota Kopwan SKW yang berdagang disana. Tentu saja kondisi ini cukup mengguncang kondisi keuangan Kopwan SKW. Kemudian yang terakhir adalah hantaman bencana lumpur Lapindo. Bencana inipun cukup menggoncang kondisi Kopwan SKW. Tidak hanya anggota yang hilang, tapi juga piutang yang macet menjadi meningkat. Setidaknya piutang macet akibat bencana ini tercatat sekitar Rp 1,2 milyar.
Dikatakan lebih lanjut, Kopwan SKW memang pernah beberapa kali jatuh. Tapi dengan kekuatan anggota pula, SKW mampu bangkit kembali. Untuk penanggulangan kemacetan akibat lumpur Lapindo misalnya, anggota telah sepakat secara bersama-sama untuk menanggungnya. Jadi kalau biasanya Tanggung Renteng itu dilakukan ditingkat kelompok, di Kopwan SKW ini Tanggung Renteng bisa dilakukan hingga tingkat koperasi.
“Untuk menanggulangi piutang ragu-ragu akibat bencana lumpur Lapindo ini, saat rapat anggota telah disepakati akan ditanggulangi secara tanggung renteng. Anggota telah sepakat membayar Rp 3 ribu setiap bulan untuk menutup kerugian tersebut. Kini piutang ragu-ragu tersebut tersisa sekitar Rp 700 juta. Memang disamping dari Tanggung Renteng tersebut, juga ada anggota kita yang menjadi korban bencana Lumpur itu yang datang kekantor dan mengansurnya,” ungkap Ibu Fatnanto, Bendahara Kopwan SKW yang juga anggota kelompok 01.
Mendengar paparan Pengurus Kopwan SKW tersebut, ternyata tidak membuat 3 calon anggota surut niatnya. Bahkan paparan tersebut semakin menguatkan niatnya untuk bisa menjadi anggota Kopwan SKW dan bergabung dalam kelompok 01. Bagi mereka menjadi anggota koperasi ini merupakan sebuah kebanggaan. Itulah sebabnya ketika ditanya apakah mereka siap bergabung dan siap menerima segala konsekuensi dari sistem tanggung renteng, merekapun serempak menjawab siap.
Setelah musyawarah penermiaan anggota, acarapun dilanjutkan dengan do’a penutup. Lho….. kok sudah ditutup ? padahal pengajuan pinjaman anggota belum dimusyawarahkan. “Memang pada pertemuan kali ini tidak ada yang mengajukan pinjaman,” tukas Ibu Luluk, PJ kelompok 01 yang beranggotakan 17 orang itu. Untuk memastikan kembali, Ibu Luluk menanyakan kepada anggotanya apakah ada yang mengajukan pinjaman. Ternyata memang tidak ada. Akhirnya pertemuanpun ditutup dengan ramah tamah dan penarikan arisan yang sekaligus untuk menetapkan tempat pertemuan dibulan berikutnya. (gatot)

0 komentar:

Poskan Komentar