Kamis, 29 Desember 2011

Mengenal Organisasi Gerakan Koperasi Dunia


ICA (International Cooperative Alliance) adalah organisasi gerakan koperasi internasional yang dibentuk pada 1895. Saat ini anggotanya 220 organisasi yang memiliki lebih dari 800 juta anggota perorangan yang tersebar di 85 negara. Dalam hal ini Gerakan Koperasi Indonesia diwakili oleh Dekopin.
Salah satu kegiatan dari ICA yaitu menyajikan profil 300 koperasi kelas dunia yang disebut juga dengan ICA Global 300. Hal ini telah menjadi salah satu agenda General Assembly yang diselenggarakan pada 18-19 Oktober 2007 yang lalu di Singapura. Sedang yang dijadikan kriteria untuk dapat terjaring dalam Global 300 ini, disamping jumlah volume usaha (turnover) serta asset, juga kegiatannya dalam melaksanakan tanggung jawab sosial (Cooperative Social Responsibility), yang antara lain meliputi: pelaksanaan nilai dan prinsip koperasi, pelaksanaan demokrasi, kepedulian pada lingkungan, serta keterlibatan dalam pembangunan masyarakat.
Dengan kriteria ini berbagai jenis koperasi, yang berasal dari 28 negara dengan omset mulai $AS 63.449.000.000 hingga $ 654.000.000, termasuk dalam kelompok koperasi klas dunia. Dari berbagai jenis koperasi tersebut, yang terbanyak adalah koperasi dari sektor keuangan (perbankan, asuransi, koperasi kredit/credit union) sebesar 40%. Kemudian disusul koperasi pertanian (termasuk kehutanan) sebesar 33%, koperasi ritel/wholesale sebesar 25%. Sisanya adalah berbagai macam koperasi, seperti: koperasi kesehatan, energi, manufaktur dan sebagainya.
Bila dilihat penyebarannya, dari 300 koperasi tersebut, 63 koperasi diantaranya berada di Amerika Serikat. Kemudian disusul 55 koperasi di Perancis. 30 koperasi di Jerman, 23 koperasi di Itali dan 19 koperasi di Belanda. Cukup menarik memang, ternyata koperasi-koperasi besar tersebut justru berada di negara kapitalis liberal. Bahkan negara yang tidak memiliki UU koperasi dan Menteri Koperasi. Koperasi-koperasi tersebut telah memberikan sumbangan cukup berarti pada perekonomian nasionalnya, khususnya dalam bentuk sumbangan pada PDB, yaitu sebesar 21% di Finlandia, 17.5% di Selandia Baru, 16.4% di Swiss dan 13% di Swedia.
Di beberapa negara Asiapun terdapat cukup banyak koperasi yang termasuk dalam daftar Global 300. Seperti Jepang yang menempatkan 12 koperasi raksasanya. Bahkan Koperasi pertanian Zeh Noh yang beromset $AS 63.449.000.000) dan Koperasi Asuransi Zenkyoren yang beromzet $ AS 46.819.000.000) telah menduduki peringkat 1 dan 2.
Di Asia juga ada koperasi dari Korea Selatan yang menempatkan 2 koperasi dan satu diantaranya telah menduduki peringkat ke 4. Koperasi tersebut adalah NACF (National Agricultural Cooperative Federation) dengan omset sebesar $AS 24.687.000.000 dan asset $ 199.783.000.000. India juga memiliki 2 koperasi unggulan, yang satu koperasi pupuk IFFCO (Indian Farmers Fertilizer Cooperative) yang omsetnya $AS 1.683.000.000 dan asset $ 1.251.000.000 menduduki peringkat 140. Sedang Koperasi Susu Amul yang omsetnya $AS 670.000.000 dan asset $ AS 11.000.000 menduduki peringkat 295.
Tidak ketinggalan Singapura, negara yang hanya berpenduduk sekitar 4.4 juta itu juga menempatkan 2 koperasi unggulannya. Koperasi tersebut adalah Koperasi Asuransi NTUC Income yang beromset $AS 1.273.000.000 yang menduduki peringkat 180. Sedang koperasi ritel NTUC Fairprice yang omsetnya $AS 808.000.000 menduduki peringkat 264.
Salah satu koperasi klas dunia versi Global 300 ICA yang termasuk dalam kelompok perusahaan klas dunia versi Fortune adalah Credit Agricole Group (Bank Koperasi Pertanian) dari Perancis. Koperasi ini beromset $ AS 30.722..000.000 dan asset sebesar $ AS 128.623.100.000. Keuntungan yang telah diraihnya sebesar $ AS 8.808.000.000. Dengan posisi tersebut koperasi ini menduduki peringkat 18. Peringkat 1 versi Fortune ini adalah Wal-Mart Store yang pendapatannya sebesar $ AS 351.139.000.000, dan keuntungan sebesar $ AS 1.284.000.000 (2008).
Selain meluncurkan ICA Global 300, dalam kesempatan General Assembly tersebut ICA juga meluncurkan Developing 300 Project. Dalam hal ini telah disajikan profil koperasi-koperasi di negara sedang berkembang dengan kriteria omset dan asset yang lebih rendah. Dalam kriteria ini yang tertinggi adalah Saludcoop, koperasi kesehatan Columbia yang omsetnya sebesar $ AS 504.681.000 dan assetnya $ AS 223.893.000. Sedangkan yang terendah adalah koperasi pertanian Uganda yang omsetnya $ AS 512.000 dan assetnya $ 399.000.
Dalam kelompok ini juga ada 5 negara Asia yaitu Malaysia, Pilipina, Muangthai, Srilangka dan Vietnam. Masing-masing negara tersebut menempatkan 5 koperasi. Sedangkan dari Afrika ada 4 negara yaitu Ethopia, Kenya, Tanzania dan Uganda. Masing-masing negara tersebut menempatkan 5 koperasi. Sementara dari Amerika Selatan, Columbia, Kostarika dan Paraguay juga menempatkan masing-masing 5 koperasi. Lalu bagaimana dengan koperasi di Indonesia yang tidak satupun masuk kategori ? Ini juga merupakan tantangan kita bersama sabagai insan koperasi. (–)

0 komentar:

Poskan Komentar