Kamis, 29 Desember 2011

TANGGUNG RENTENG DAN KEJUJURAN


Sistem Tanggung Renteng Membentuk Kejujuran

Kejujuran memang seakan menjadi hal langka saat ini. Bahkan tidak jarang, orang diolok-olok justru karena kejujurannya. Ketidak jujuran seakan menjadi hal biasa untuk dilakukan dan hal itupun terjadi hampir dalam semua aspek kehidupan. Lalu bagaimana system tanggung renteng mencoba untuk membangun kembali nilai-nilai kejujuran tersebut ?
Seorang pelajar yang berusaha jujur dengan tidak menyontek saat ujian, justru kena marah dari orang tuanya karena nilai ujiannya jelek. Bukan lagi rahasia, saat berlangsungnya ujian nasional, seringkali didapatkan seorang guru melakukan pembiaran terhadap siswa yang menyontek. Nilai ujian seakan menjadi segala-galanya dan ketidak jujuran menjadi halal. Bukan pula rahasia, untuk menjadi PNS juga demikian. Tak mengherankan para calopun bermunculan saat dibuka penerimaan PNS baru.
Dalam perdagangan, ketidak jujuran juga sangat mudah untuk ditemui, mulai yang terkait dengan kualitas hingga kuantitasnya. Dalam perpolitikan apalagi, ketidak jujuran bisa dibungkus dengan berbagai cara dan kata yang indah. Di lingkungan rumah, orang tua berdusta pada anak juga sering ditemuai. Dengan demikian sejak dini anak sudah diajarkan tentang ketidak jujuran. Begitu pula ketika dewasa, ia juga diajarkan tentang ketidak jujuran oleh lingkungannya dimanapun ia berada. Ia bisa menemukan ketidak jujuran dirumah, dikampung, dijalanan bahkan ditempat kerja.
Sistem tanggung renteng, mencoba membangun kembali nilai kejujuran tersebut melalui kelompok. Di kelompok tanggung renteng, seorang anggota dituntut untuk jujur agar bisa dipercayai oleh teman-temannya dalam kelompok. Pembiasaan ini bisa dilakukan karena ada kontrol, baik pada tingkat kelompok maupun koperasi. Kontrol ini terkait erat dengan reward dan punishment secara bertingkat.
Tingkat pertama, terkait dengan kepercayaan yang diberikan koperasi pada kelompok. Kemudian kelompok memberikan kepercayaan pada anggota-anggotanya. Reward yang berupa realisasi hak sebagai anggota koperasi akan disetujui oleh seluruh anggota dalam kelompok karena ia bisa dipercaya. Selanjutnya hak tersebut akan direalisasi oleh koperasi bila kelompok tersebut bisa dipercaya. Sedang alat ukurnya adalah, pelaksanaan kewajiban yaitu pembayaran simpanan pokok, simpanan wajib dan angsuran pinjaman. Dalam hal ini koperasi dengan system tanggung renteng mensyaratkan semua kewajiban harus terselesaikan dalam kelompok.
Bila kewajiban yang dibayarkan oleh kelompok pada koperasi ternyata tidak lengkap, maka koperasi tidak akan merealisasi pengajuan pinjaman dari anggota dikelompok tersebut. Dengan mekanisme inilah, membuat setiap anggota dalam kelompok akan saling mengontrol agar pembayaran kewajiban secara kelompok kepada koperasi bisa lengkap. Disinilah setiap anggota dituntunt untuk berbuat jujur, agar penilaian terhadap dirinya tidak sampai salah. Karena kesalahan dalam penilaian akan memunculkan resiko yang menyusahkan seluruh anggota dalam kelompok. Kalau sampai hal ini terjadi, anggota tersebut akan kehilangan kepercayaan dari teman-teman sesama anggota dikelompok. Hal itu juga berarti akan menjadi hambatan baginya dalam memperoleh hak sebagai anggota koperasi.
Karena pola ini terus dilakukan setiap bulan, maka secara perlahan dan bertahap akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang terus menerus, tentunya akan menjadi budaya yang akan mewarnai kehidupan anggota tersebut baik dalam pergaulan dirumah maupun diluar rumah. Harapannya, tentu bila lebih banyak lagi yang melaksanakan system tanggung renteng ini, maka nilai kejujuran dalam masyarkat akan bisa ditumbuhkan lebih cepat lagi. Ibaratnya dengan system tanggung renteng ini, nilai kejujuran bisa disebarkan bagaikan virus yang menjangkiti masyarakat. (gatot)

Kejujuran Modal Utama Sistem Tanggung Renteng

Seperti diketahui, dalam usaha simpan pinjam dengan sistem tanggung renteng, faktor kepercayaan adalah yang utama. Tentu hal ini bukan hanya sebatas slogan, tapi sebuah keharusan untuk diaplikasikan. Karena dana yang beredar dalam sebuah kelompok tanggung renteng bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Hal tersebut bisa terjadi karena adanya saling percaya antara koperasi dan anggota yang terhimpun dalam kelompok. Begitu pula seluruh anggota dalam kelompok secara bersama-sama menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh koperasinya. Sehingga tidak membutuhkan agunan berupa material.
Dalam kelompok tanggung renteng, faktor kepercayaan menjadi modal utama. Sehingga setiap anggota dapat mengajukan pinjaman, tanpa harus menyertakan agunan berupa material. Saling percaya diantara anggota, itulah yang menjadi jaminan. Sedang saling percaya itu sendiri akan tumbuh subur bila masing-masing anggota bisa menjaga kepercayaan atau tidak berkhianat. Anggota yang berkhianat atau menciderai kepercayaan, akan terpental dari kelompok dan akan sulit untuk bisa masuk lagi.
Memang, menjaga kepercayaan bukanlah mudah dan bukan tanpa pengorbanan. Upaya sebuah kelompok untuk tetap bisa dipercaya oleh koperasinya, ialah dengan menyelesaikan semua kewajiban anggotanya saat pertemuan kelompok. Yang dimaksud kewajiban terkait keuangan adalah : membayar angsuran, membayar simpanan pokok dan simpanan wajib. Untuk menjadi kelompok yang bisa dipercaya, seluruh anggota dalam kelompoklah yang bertanggung jawab menjaganya. Memang terkadang terasa berat utamanya bila ada anggota yang berkhianat. Karena disaat seperti itu, dituntut adanya pengorbanan dari seluruh anggota atau yang disebut juga dengan TR.
Pengorbanan tersebut memang harus dilakukan agar kelompok tetap bisa dipercaya oleh koperasinya. Karena rentetan berikutnya bila pengorbanan tidak dilakukan, maka koperasinyalah yang akan kehilangan kepercayaan. Sudah bisa ditebak, bagaimana sebuah lembaga yang kehilangan kepercayaan. Apalagi lembaga yang bergerak dibidang keuangan.
Koperasi juga akan kehilangan kepercayaan, manakalah ia tidak mampu merealisasi hak-hak anggotanya. Apalagi kondisi tersebut disebabkan karena pengelolanya yang tidak amanah. Hal-hal demikian inilah yang biasanya diungkap oleh media massa. Sehingga memperburuk citra koperasi. Akibatnya koperasipun sulit mendapat kepercayaan dari masyarakat dan membuat koperasi sulit berkembang.
Indikator dari ketidak percayaan masyarakat pada koperasi bisa dilihat dari kemampuan koperasi itu sendiri menghimpun dana. Bahkan dari anggotanyapun sulit. Masalah inilah yang dikeluhkan kebanyakan koperasi. Mereka sulit mencari anggota apalagi ketika disyaratkan untuk membayar simpanan pokok dan simpanan wajib. Bahkan mereka juga kesulitan untuk memotivasi anggotanya agar menyimpan di koperasinya.
Mereka mengeluhkan anggotanya yang hanya mau pinjam ke koperasi tapi ketika menyimpan justru ke bank. Hal ini wajar, karena menyimpan di bank dianggap lebih aman daripada menyimpan dikoperasinya. Tentu saja ini tantangan bagi koperasi terutama yang baru tumbuh. Mereka harus bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat dan khususnya anggota. Kalau hal itu gagal dilakukan, sampai kapanpun koperasi tidak akan bisa tumbuh dan berkembang.
Pengalaman dari Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita di Surabaya – Jawa Timur, yang kini telah berusia 32 tahun, salah satu contohnya. Pada awal pertumbuhannya, bila melihat grafik perkembangan koperasi yang landai pada beberapa tahun awal. Kegigihan, pengorbanan dan kesungguhan pengelola koperasi dalam mengemban amanah, itulah yang kemudian membuahkan kepercayaan masyarakat meningkat. Bukan saja anggota, tapi juga masyarakat dan lembaga keuanganpun akhirnya menaruh kepercayaan.
Kepercayaan itupun bisa terus dipertahankan, yang kemudian juga membuahkan berbagai prestasi dan pengakuan. Bahkan kini koperasi ini mampu membalik kesan, bahwa jatidiri koperasi hanya sebuah angan-angan yang tidak bisa diaplikasikan. Hal inilah yang kemudian membuat banyak pihak terkagum-kagum. Mereka berdatangan ke Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita untuk mengetahui lebih jauh bagaimana koperasi ini dikelola.
Kepercayaan memang mahal harganya. Untuk meraihnyapun bukan tanpa pengorbanan. Tapi begitu kepercayaan itu berhasil diraih, maka pintu kesuksesan itu akan terbuka lebar. Karenanya janganlah kepercayaan yang telah diraih, diciderai. Begitu kepercayaan terciderai, maka pintu kesuksesan itu akan tertutup dengan sendirinya. (gatot)

Arti Kejujuran Dalam Sistem Tanggung Renteng

Menjadi orang jujur dijaman sekarang justru akan ajur (hancur-red). Itulah ungkapan yang berkembang di masyarakat sebagai cermin bahwa kejujuran telah menjadi langka. Hal ini seakan menegaskan kalau ingin cepat kaya dan sukses dibidang apapun, jangan jujur. Betulkah demikian dan bagaimana dalam system tanggung renteng?
Anggota koperasi yang tidak jujur, akan menjadi masalah dalam angsuran pinjamannya. Semakin parah lagi bila pengelola koperasi yang tidak jujur. Tentu dananya akan kemana-mana tanpa ada kejelasan. Kalau sudah demikian, asset anggota yang berasal dari berbagai simpanan itu ditambah dengan pinjaman pada pihak ketiga, jelas akan semakin tidak jelas kemana larinya. Dana yang berada di tangan anggota, tidak jelas pengembaliannya. Begitu pula ditingkat koperasi juga tidak bisa dipertanggung jawabkan aliran dananya.
Dengan kondisi yang demikian itu, sudah bisa diprediksi bagaimana kelanjutan dari perjalanan koperasi tersebut. Pengelola tidak percaya pada anggota, karena banyak pinjaman yang tak terbayar. Sebaliknya anggotapun tidak percaya pada pengelola, karena dana yang dikelola tidak bisa dipertanggung jawabkan keberadaanya. Bahkan hak-hak anggota juga menjadi tersendat. Krisis kepercayaan inipun akan berlanjut pada penarikan dana-dana simpanan. Begitu pula pihak ketiga jelas akan menarik dananya. Sehingga dalam waktu singkat, koperasipun colaps.
Kejujuran memang modal utama dalam berkoperasi. Apalagi dengan system tanggung renteng, kejujuran menjadi sebuah keniscayaan. Bisa dibayangkan, bagaimana bila anggota tidak jujur. Tentu, dia akan merepotkan dirinya sendiri dan kelompoknya. Karena tidak jujur, data yang disampaikan saat musyawarah kelompok, berbuah pada masalah dibelakang harinya. Mengenai hal ini sudah banyak contoh yang dialami oleh koperasi yang menerapkan system tanggung renteng. Satu diantaranya kasus tentang penggunaan nama teman untuk mendapatkan pinjaman yang diistilahkan dengan pendomplengan. Dalam kasus ini seringkali berakibat pada kredit macet.
Berawal dari ketidak jujuran, seorang anggota terpaksa pontang – panting setiap menjelang pertemuan kelompok. Karena uang yang dimiliki tidak mencukupi untuk membayar kewajiban pada koperasi. Begitu pula anggota lainnya dalam kelompok yang terpaksa harus mengeluarkan dana ekstra untuk menanggung kewajiban anggota yang tak terbayarkan atau diistilahkan dengan TR. Kalau hal ini terjadi setiap bulan, sudah bisa ditebak bagaimana perasaan setiap anggota ketika pertemuan kelompok.
Bagi anggota yang bermasalah, tentu juga tidak tenang ketika bertemu dengan teman-teman anggota dikelompok. Sekalipun ia bisa menghindar dengan cara menghilang dari lingkungannya, ia tetap tidak akan tenang hidupnya. Ditempat yang baru, ia akan selalau dihantui beban yang telah ditinggalkannya. Dalam kondisi demikian, ia akan kehilangan harga diri dan ketenangan hidup. Hal inilah yang menjadi faktor penyebab tertutupnya akses kehidupan. Karena tidak akan ada orang yang mau berhubungan dengan orang tidak jujur dan tidak bisa dipercaya.
Seperti diketahui, sebagai makhluk sosial, tidak ada satupun manusia yang bisa hidup tanpa bantuan manusia lain. Bantuan manusia lain itu akan terjadi manakala ia bisa dipercaya. Kepercayaan itu akan tumbuh, seiring dengan sikap dan perilaku jujur. Kepercayaan itu akan terjaga manakala amanah yang diberikan bisa dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Konsep ini, bukan hanya berlaku dalam sistem tanggung renteng saja tapi dalam semua aspek kehidupan.
Dalam sistem tanggung renteng, hal ini bisa dirasakan saat musyawarah. Anggota yang jujur dan bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan anggota dalam kelompok, akan mudah ketika mengajukan pinjaman. Tidak perlu merengek-rengek yang justru merendahkan harga dirinya. Sebaliknya, anggota yang kehilangan kepercayaan dari anggota lain dalam kelompok akan selalu dicurigai. Bahkan, akan mendapat cacian karena sering menyusahkan kelompok.
Kejujuran, kepercayaan dan tanggung jawab memang merupakan lingkaran nilai-nilai yang tak boleh terputus. Kejujuran akan membuahkan kepercayaan untuk menerima amanah. Ketika amanah itu kemudian dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab maka kepercayaanpun akan semakin menguat. Semakin banyak yang memberikan kepercayaan maka semakin terbuka lebar jalan menuju kesuksesan. Jadi masikah berlaku ungkapan kalau jujur itu ajur?. Tentu sebaliknya yang tidak jujur akan ajur (hancur-red), terjadinya tinggal menunggu waktu saja. (gatot)
SUMBER ;

0 komentar:

Poskan Komentar