Kamis, 13 Oktober 2011

Mengenal Semangat Kerja Karyawan


AGAR dapat memberikan performa yang terbaik, karyawan tentu memiliki semangat tersendiri. Semangat inilah yang kemudian menjadi motivasi bagi karyawan untuk semakin memberikan kinerja yang optimal dan memberi kontribusi bagi perusahaan.

Berkaitan dengan semangat, aspek ini rupanya dibagi menjadi dua garis besar. Yakni, motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

Pada motivasi intrinsik atau motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang, lebih mengarah pada tingkat kepuasan atas kinerja (performance) yang ditunjukkannya. Dalam hal ini apabila karyawan diberikan feedback berkala atau evaluasi yang rutin atas kerjanya, maka karyawan akan mampu menilai seberapa besar kinerja mereka. Umpan balik yang bisa diberikan berupa pujian, laporan kedisiplinan, laporan tertulis, hingga peringatan.

Sedangkan untuk memotivasi secara ekstrinsik atau motivasi dari luar, adalah dengan memberikan karyawan kepastian akan kinerja yang dilakukan. Biasanya dilakukan dengan memberikan bonus. Untuk diketahui, ada tiga tipe bonus. Yakni small bonus di mana seseorang mampu menunjukkan performance sedikit di atas standar perusahaan.

Ada pula yang disebut medium bonus. Bonus ini ditujukan bagi seseorang yang mampu menunjukkan kinerja di atas standar dan bersifat kontinyu. Dan yang terakhir adalah special bonus,yaitu ketika seseorang karyawan berhasil menunjukkan prestasi kinerja yang melebihi dari prestasi karyawan lainnya.

Ada pula kepastian akan upah yang diberikan. Dan diberikan pula kesempatan untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi. Karenanya, dengan mengefektifkan kedua motivasi ini,maka seorang karyawan mampu memberikan performance yang maksimal.

Semangat bekerja karyawan rupanya juga dapat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan atasan. Seperti dikatakan oleh Christian Siboro yang merupakan salah seorang pendiri dan konsultan I-SYS Consulting seperti dilansir dari situs portalhr.com.

Menurutnya, kondisi iklim kerja akan memengaruhi kondisi motivasi dan semangat kerja karyawan di dalam sebuah perusahaan.
"Jika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapi dalam organisasi atau unit kerja, maka akan membuat iklim kerja menjadi kondusif," katanya.

Dan pada akhirnya, tukas Christian, akan memberi motivasi yang tinggi bagi karyawan untuk memberikan yang terbaik dalam mencapai target kerja. Bukan tidak mungkin jika karyawan pun akan memberikan extra ordinary atau discretionary efforts.

Lebih jauh Christian mengatakan, faktor yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan karyawan dalam menghasilkan kinerja tinggi engaged performance di antaranya aspek kepemimpinan, yang di dalamnya juga terkait dengan aspek komunikasi dan arahan dari pimpinan ke seluruh anggota organisasi atau unit kerja.

Survei lain yang dilakukan oleh salah satu consulting firm global juga menyatakan bahwa naik turunnya iklim kerja sebesar 70 persen dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Sementara naik turunnya kinerja sebesar 30 persen dipengaruhi oleh iklim kerja.

Jadi, jika mau memperbaiki kinerja 30 persen lebih tinggi, cukup dengan memperbaiki iklim kerja, dan gaya kepemimpinan. Dengan catatan faktor-faktor lain dianggap tetap atau stabil. Hal tersebut, menunjukkan bagaimana kritikalnya peran pemimpin di setiap lapisan organisasi dalam menentukan motivasi karyawan, melalui iklim kerja yang diciptakannya.

Sumber : okezone.com

0 komentar:

Poskan Komentar